Ternyata Cewek Suka Hipnotis

Kompas.com - 27/08/2010, 15:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hipnotis kerap dihubungkan dengan aksi kejahatan. Namun, delapan tahun belakangan, peminat hipnotis adalah wanita.

"Delapan tahun belakangan ini, peminat hipnotis di sekolah saya adalah wanita," kata Mardigu Wowiek Prasantyo, praktisi hipnoterapi, saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Jumat (27/8/2010).

Menurut Mardigu, fakta itu memang menarik. Sekitar 60 persen wanita yang datang ke sekolah hipnotisnya—Hipnotoze Training Institute of Indonesia (HTI)—bermotif untuk slimming (menguruskan badan).

"Misalnya mereka biasa konsumsi minuman kaleng yang banyak mengandung gula. Dengan hipnotis, praktik selama tiga bulan mereka minum air putih yang berasa minuman kaleng. Dan sukses jadi kurus," kata Mardigu.

Selain untuk menguruskan badan, para wanita ini belajar hipnotis untuk mengetahui pasangannya agar jujur. Hipnotis ini juga dipakai untuk keterampilan berkomunikasi dengan anak mereka.

Belajar hipnotis memang mudah dan cepat. Memang membutuhkan mentor atau tenaga ahli. Namun, hal itu dapat dipelajari dalam satu hari selama 8 jam saja.

"Biasanya nanti berlanjut ke tahap belajar yang lebih tinggi, yakni pengendalian diri. Untuk sesi ini dibutuhkan 16 jam selama 2 hari. Misalnya mengatasi stres, fobia ketinggian, trauma, panik, insomnia, dan lainnya," kata Mardigu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau